RUU Radio dan Televisi Republik Indonesia, Perkuat Eksistensi Negara

rri_resizeKarakterNews.com – Anggota Komisi I DPR RI, Arief Suditomo mengemukakan bahwa Rancangan Undang-Undang (RUU) Radio dan Televisi Republik Indonesia untuk memperkuat eksistensi negara. Karena keberadaannya sebagai lembaga penyiaran harus diperkuat.

RTRI ini sebagai alat untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI. Karena itu harus menyiarkan berita-berita khas ke-Indonesiaan, budaya, kultur, tradisi, perilaku, moralitas bangsa yang luhur dari Sabang – Merauke. Seperti halnya ‘Bocah Petualang’,” kata Arief Suditomo, pada forum legislasi ‘RUU RTRI’ bersama praktisi RRI M. Kabul Budiono dan mantan Pemred SCTV Nurjaman Mochtar, Selasa (31/5/2016) di DPR RI Jakarta.

“Dengan RUU RTRI ini, RRI dan TVRI akan mampu go public, melebihi siaran swasta, kalau semua lapisan masyarakat komitmen mendukung dan melaksanakan RUU ini. UU ini memberi kesempatan kepada RRI dan TVRI untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang professional dan sumber dana yang kuat oleh negara. Apalagi tugas RRI dan TVRI untuk kepentingan bangsa dan negara,” ujar Anggota DPR RI Arief Suditomo.

Pada prinsipnya, sebut Arief, TVRI dan RRI bukan untuk mengejar keuntungan, profit orientad, komersial, melainkan untuk memberikan pencerahan dan mempertahankan kedaulatan negara. Terlebih, saat ini menikmati siaran radio dan TV tidak lagi harus di rumah, tapi bisa didengar dan dilihat dari handpone di tangan, untuk kapan, dan dimana saja setiap saat, sesuai keinginan.

Sementara itu, Kabul Budiono mendukung RUU ini, sebab memang ada hal-hal yang secara prinsip berbeda dengan swasta. Hanya saja kalau dijadikan satu, maka misi dan visi antara RRI dan TVRI juga harus satu, karena ada ditangan manajemen yang satu dan pasti akan lebih kuat. Karena itu dari sisi penguatan kelembagaan melalui RUU ini harus ada kepastian.

Meski secara psikologis, manajemen dan sebagainya pasti akan mengalami gesekan-gesekan, dan benturan, tapi bisa diatasi. “Jadi, program RRI dan TVRI berbeda karena memang tidak berorientasi profit orientad, karena sifatnya independen. Seperti penampilan anak di TV swasta, pasti berbeda dengan di TVRI. Kalau di swasta cukup dengan jingkrak-jingkrak, tapi di TVRI bagaimana anak itu mampu memahami dirinya sebagai anak Indonesia.

Sedangkan Nurjaman Muchtar menilai jika pudarnya TVRI pasca reformasi itu karena TVRI identik dengan suara pemerintah. Karena itu, TVRI harus lebih kreatif di era digital dan web saat ini. “Kalau swasta itu kan jelas seperti lingkaran setan, kalau ratingnya tinggi, maka iklannya akan banyak, kalau iklannya banyak maka akan mendatangkan uang banyak, dan kalau uangnya besar, maka akan kreatif mengembangkan program-program TV.

Namun, jika TVRI dan RRI akan diback up oleh negara melalui RUU RTRI, maka seharusnya mempertahankan keutuhan negara. Termasuk di dalamnya berbagai budaya bangsa dari Sabang – Merauke. (kn-j09)

Related posts