September 26, 2018

Media Sebagai Garda Kampanye Damai

KarakterNews.com – Beberapa waktu belakang ini, isu hoax semakin menggila di Indonesia. Mulai dari masalah agama hingga politik, isu hoax mengguncang persatuan dan kesatuan negeri ini. Hoax merupakan berita bohong yang dapat membahayakan jika dipercaya oleh masyarakat. Sebuah isu dapat dikatakan sebagai hoax jika memiliki beberapa unsur berikut :

1. Isu yang beredar bersifat provokatif. Masyarakat atau pribadi yang menerima berita hoax akan terpancing amarahnya serta akan menimbulkan perdebatan, permusuhan, dan kebencian. Berita hoax yang sering diedarkan di Indonesia adalah mengenai agama, suku, dan ras. Pada masa kampanye politik, akan banyak isu hoax seputar calon yang bersaing dalam bentuk kampanye hitam (black campaign).

2. Isu hoax tidak jelas sumbernya. Berita atau isu yang disebarkan tidak benar jika tidak jelas sumbernya. Umumnya berita atau isu hoax akan disebarkan melalui broadcast pesan singkat atau melalui situs-situs yang tidak jelas. Di sosial media, ada akun-akun tidak jelas yang akan menyebarkan berita hoax ini. Misalnya, ada informasi mengenai daftar makanan yang berbahaya untuk dikonsumsi yang disampaikan lewat grup whatsapp. Namun, informasi ini tidak ditemui di situs resmi lembaga terkait, seperti BPOM atau kementerian kesehatan. Maka, hampir dapat dipastikan bahwa isu tersebut adalah hoax belaka.

3. Isi dari isu yang beredar tersebut tidak berimbang. Isu disampaikan cenderung untuk menyudutkan pihak tertentu. Namun, ada juga isu hoax yang disampaikan tanpa menyudutkan pihak tertentu dengan tujuan menakut-nakuti masyarakat. Misalnya, beredar isu mengenai komplotan penculikan anak yang tengah beraksi di suatu kota yang tidak datang dari pihak kepolisisan. Informasi ini tentu akan membuat warga yang memiliki anak menjadi ketakutan dan menjadi mudah curiga pada beberapa orang.

4. Isu hoax cenderung bermuat fanatisme terhadap suatu golongan atau tokoh tertentu atas nama ideologi. Misalnya saat kampanye berlangsung, akan banyak hoax yang disebarkan oleh pihak-pihak yang fanatik dengan satu tokoh calon pemimpin sehingga menyebarkan hoax untuk menyudutkan calon lainnya.

Baca Juga:  Cawagub Sihar Sitorus : 'Wah.. Kawan-Kawan Dari PP Datang, Terima Kasih'

Terdapat banyak pihak yang bertanggung jawab untuk mengontrol berita hoax yang beredar di masyarakat. Perlu adanya peran aktif dari semua pihak untuk menangkal berita hoax ini, seperti pemerintahan, media, dan masyarakat sendiri. Media sebagai lembaga yang berperan dalam penyebaran berita memiliki peran penting dalam meredam isu hoax yang beredar di masyarakat. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh media dalam meredam isu hoax yang beredar di masyarakat adalah:

Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya berita hoax dan penyebarannya. Salah satu peran media dalam menangkal isu hoax yang beredar di masyarakat adalah dengan memberikan kampanye ke masyarakat tentang berita hoax, penyebaran, dan dampaknya. Media menjadi salah satu yang mampu melakukan hal ini karena media akan lebih banyak berhubungan dengan masyarakat.

Media-media seperti media sosial, televisi, situs berita, situs berbagi informasi dan video, radio, serta koran sudah semestinya mengambil bagian dari kampanye damai di masyarakat guna menangkal penyebaran berita hoax. Media harus menyampaikan betapa bahayanya berita hoax jika sampai dipercaya oleh masyarakat. Bahaya dari berita hoax adalah :

1. Merusak persatuan dan kesatuan karena akan memancing permusuhan di masyarakat.
2. Hilangnya rasa saling percaya di dalam masyarakat.
3. Sulit untuk mengenali berita yang benar dan berita yang bohong.

Salah satu hal yang membuat berita atau isu hoax sangat mudah tersebar adalah karena mudahnya akses informasi saat ini karena adanya internet. Semua orang dapat menyebarkan informasi apapun melalui sosial media, blog, atau aplikasi pesan singkat. Disinilah media dapat memberikan edukasi mengenai tata cara mengenali berita hoax di internet agar tidak disebarkan kepada pengguna lainnya, sehingga tidak semakin banyak yang terpengaruh. Beberapa cara mengantisipasi isu hoax di internet adalah :

1. Memperhatikan bagian judul berita. Guna menarik perhatian pembaca, banyak pembuat berita yang membuat judul berita yang provokatif. Padahal isi dari berita tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan judul yang diberikan. Oleh karena itu, penting untuk meninjau kembali judul berita yang akan dibaca. Jangan mengambil kesimpulan isi berita hanya berdasarkan judulnya saja. Coba untuk membaca keseluruhan berita sebelum menarik suatu kesimpulan. Selain itu, carilah berita lainnya berkaitan dengan topik tersebut. Hal ini akan membuat pembaca memiliki berbagai sudut pandang terhadap topik tersebut.

Baca Juga:  Cawagub Sihar Sitorus : 'Wah.. Kawan-Kawan Dari PP Datang, Terima Kasih'

2. Memeriksa akun, website, atau sumber berita. Jika mendapatkan sebuah berita di facebook, instagram, atau sumber lainnya yang tidak pasti, maka cobalah untuk mencari sumber asli dari isu tersebut. Dewan Pers Indonesia memiliki daftar website yang sudah terferivikasi dan menyebarkan isu atau berita yang dapat dipercaya. Jika isu tersebut juga disampaiakan di website terpercaya, maka barulah isu tersebut dapat dikatakan benar dan bukan hoax.

Namun, jika informasi tersebut hanya disampaikan oleh website atau akun yang abal-abal, maka harap berhati-hati dalam mempercayai isu tersebut. Jika mengenal orang yang membagikan informasi tersebut, ada baiknya bertanya kepada orang tersebut tentang sumber isu yang ia sebarkan agar dapat mengetahui kebenarannya.

3. Membedakan isu yang berisi fakta dengan opini. Jangan menelan mentah-mentah informasi yang didapatkan dari seorang narasumber atau penulis sebuah berita dan isu. Pahamilah fakta-fakta yang ada di dalam berita atau isu tersebut. Jangan mengambil kesimpulan hanya berdasarkan pendapat satu atau dua orang semata. Inilah yang sering menimbulkan perdebatan dan perselisihan setelah membaca dan mengetahui suatu isu.

4. Cermat membaca korelasi foto dengan isu yang disampaikan. Layaknya judul yang provokatif, foto yang ditampilkan di suatu berita atau isu juga terkadang bukanlah foto yang benar. Banyak yang mengambil foto yang berbeda untuk menyampaikan berita yang berbeda. Sebelum mempercayainya, carilah di Google Images mengenai foto tersebut agar dapat menemukan sumber asli dari foto yang dipakai oleh penyebar isu.

5. Ikut serta dalam beberapa komunitas online. Ada beberapa komunitas online di Indonesia yang rutin memerangi berita hoax. Dengan bergabung bersama komunita ini, masyarakat dapat lebih mudah untuk mengetahui berita-berita yang termasuk hoax dan yang dapat dipercaya.

Baca Juga:  Cawagub Sihar Sitorus : 'Wah.. Kawan-Kawan Dari PP Datang, Terima Kasih'

Menyajikan berita yang memiliki fakta dan sumber yang jelas
Fakta dan sumber yang jelas merupakan salah satu pembeda isu hoax dan isu yang benar. Media terkadang juga salah dalam menyampaikan berita karena mengambil dari sumber yang salah. Hal ini disebabkan banyaknya jurnalis yang malas untuk mencari berita sehingga mengambil berita dari sumber yang salah.

Sebelum menyampaikan berita ke masyarakat, penting untuk mengkalrifikasi berita tersebut kepada pihak yang bersangkutan. Menyampaikan opini dan praduga ke masyarakat termasuk salah satu awal tersebarnya berita hoax.

Media harus menjadi pihak yang netral dalam menampilkan berita. Fungsi utama media tentu menyampaikan berita dan informasi kepada masyarakat. Namun, tidak selamanya media menyampaikan berita yang benar dan sesuai dengan ketentuan yang sudah dibuat. Hal inilah yang harus segera diperbaiki. Media sebagai pihak yang menyampaikan informasi tentang apapun itu, haruslah menjadi pihak yang netral, tidak memihak pada satu sisi. Misalnya, saat ada pemilihan di suatu negara atau daerah, maka media harus menyorot hal yang sama dari semua pasangan calon. Jangan menyampaikan hal yang buruk mengenai salah satu pasangan calon dan menutupi keburukan pasangan lainnya.

Karena itu, penulis berpandangan bahwa kemerdekaan pers seharusnya dapat dimaknai untuk mencerdaskan masyrakat. Kemerdekaan pers pantang untuk disalah artikan untuk kepentingan kelompok tertentu. Dengan masih adanya jurnalis yang tetap memegang teguh kode etik jurnalistik yang dapat menyaring berita hoax, maka diharapkan muncul pemberitaan yang objektif dan mendukung terciptanya iklim kampanye yang damai. *** (Penulis : Stevanus Sulu – Mahasiswa Nusa Cendana)

Related posts