December 18, 2017

Layak Jadi Cawapres, Cak Imin Harus Jadi Milik Bangsa Indonesia

Sejumlah Tokoh muda Sumut, Dr Anang Anas Azhar MA, Ronald Naibaho, Aswan Jaya dan H Fadly Yasir, saat tampil sebagai narasumber, pada Forum Group Discussion bertajuk “Cak Imin di Mata Pemuda Sumatera Utara”. (Ist).

KarakterNews.com – MEDAN – Sejumlah Tokoh Pemuda Provinsi Sumatera Utara menilai, sosok Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dengan pemikiran nasionalis-religiusnya, sudah layak menjadi calon Wakil Presiden (Cawapres) pada Pemilu 2019 mendatang. Namun Cak Imin harus mengubah pola, jangan hanya populer di kalangan Nahdliyin (warga NU), tapi harus go public atau menjadi milik bangsa Indonesia.

Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Cak Imin di Mata Pemuda Sumatera Utara”, berlangsung di Kopi Kombur, Jalan Sisingamangaraja, Medan, pada Senin (2/10/2017) lalu, dihadiri para nara sumber diantaranya, Tokoh Muda Muhammadiyah Dr Anang Anas Azhar MA, aktivis Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sumut Ronald Naibaho, pengamat politik Faisal Reza, Ketua Angkatan Muda Ka’bah (AMK) Sumut Aswan Jaya, dan Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sumut H Fadly Yasir.

Pengajar ilmu komunikasi politik Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Anang Anas Azhar menilai, sejauh ini Cak Imin masih terkenal di lingkungan Nahdliyin. “Menjadi cawapres, tak cukup hanya bermain di kandang. Saatnya, mengubah pola dengan memasuki grass root di luar NU dan harus mencitrakan dirinya tak hanya milik NU tapi milik bangsa,” ujarnya.

Aktivis GAMKI Sumut Ronald Naibaho mengatakan, jika ada keinginan Cak Imin mencalonkan diri Presiden atau Wapres, Saya yakin pria kelahiran Jombang, Jawa Timur ini akan mampu. Hal ini didasari dari perjalanan kariernya yang mampu membangkitkan PKB, padahal dari pandangan kebanyakan orang akan habis. “Secara figur, Cak Imin sungguh luar biasa, bahkan mengalahkan pamannya Gus Dur, meski sempat dilengserkan di PKB, tapi akhirnya berhasil jadi Ketua Umum hingga saat ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Faisal Reza menuturkan, Cak Imin tak bisa jadi orang nomor satu, yang bisa hanya mendampingi Jokowi.  Itu dilihat dari posisi tawar pertarungan Islam konservatif dan Islam Nusantara. “Saat ini, kita dihadapkan tipologi populis. Program nomor sekian. Seperti halnya Jokowi bisa selfie-selfie dengan rakyat, sudah cukup. Untuk  tahapan ini, Cak Imin mengisi kekosongan,” sebut Dosen ilmu politik UINSU ini.

Dikatakan Faisal, Jokowi akan lebih baik bila bepasangan dengan Cak Imin pada Pilpres 2019. Pasalnya, identifikasi politik rival Jokowi adalah militer. “Karenanya, figur Cak Imin bisa menguatkan figur Jokowi,” tegasnya.

Sedangkan Ketua AMK Sumut Aswan Jaya menyatakan, Cak Imin saat ini bisa dibilang “main api” dengan kekuatan Jokowi untuk menghadapi Pilpres. Banyak contoh seperti halnya Setnov, Ketua Perindo Hary Tanoe yang terancam ke ranah hukum setelah mencoba mengusik kursi Capres. Karenanya Cak Imin harus bermain di ranah Cawapres,” ujarnya.

Selanjutnya, Ketua ISNU Sumut H Fadli Yasir mengemukakan, kalau ingin nyapres Cak Imin harus segera “keluar” dari NU seperti pendahulunya, Gus Dur.  Sebab, banyak contoh kalau masih berkutat di NU akan kalah seperti Hasyim Muzadi dan Gus Sholah. “Muhaimin jangan hanya berhenti di PKB dalam melakukan manuver politiknya. Mengganggu Jokowi juga perlu jika harus dilakukan,” tandasnya.

Sebelumnya, A Jabidi Ritonga sebagai penggagas FGD menjelaskan, kegiatan ini merupakan inisiatif pihaknya dalam mencari input dan pandangan masyarakat. Kegiatan ini tidak ada hubungannya dengan partai manapun, dan tidak hanya dilakukan di Sumut, tapi di seluruh Indonesia,” ujarnya. (kn-m09)

Related posts