Ketum SBSI : Nasib Buruh Tak Banyak Berubah

KarakterNews.com – JAKARTA – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), Muchtar Pakpahan menyatakan, hingga saat ini nasib dan kesejahteraan buruh tidak banyak berubah. Mulai dari mutu upah buruh, kebebasan berserikat hingga dalam hal pemenuhan hak-hak buruh.

“Kebebasan berserikat misalnya, itu resmi dilindungi undang-undang sebagai akar kesejahteraan buruh. Namun, di lapangan, kebebasan berserikat itu belum ada, belum eksis, kebebasan buruh itu masih menghadapi pengerdilan,” ungkap Muchtar Pakpahan, di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (28/4/2018).

Sikap-sikap ‘pengerdilan’ yang diterima serikat buruh, dikatakan Muchtar, berbanding terbalik dengan perlakuan yang diterima perusahaan jika terbukti bersalah. “Pemerintah cenderung tak abai pada kasus-kasus yang melibatkan perusahaan atau pemilik modal. “Kami ada 220 laporan, tapi tidak ada yang digubris. Kami laporkan ke Presiden tidak ada tanggapan, lalu kami ke Polisi dan Kemenaker,” ujarnya.

Begitupun dalam hal penggajian buruh, Muchtar mengatakan, hingga kini tidak mengalami perubahan yang signifikan. “Contohnya, nominal gajinya saat menjadi dosen pada tahun 80-an sebesar Rp 750 ribu. Lalu tahun ini, setelah menjadi Profesor di perguruan tinggi swasta (PTS), gajinya senilai Rp 7,1 juta.

“Orang Eropa pasti akan bilang itu kenaikan gaji yang luar biasa. Tapi coba bandingkan nilai itu ke beras, ke emas, ke dolar, ke rumah, itu sama saja. Tidak makin baik. Tapi ini untuk buruh kasar, ya bukan guru menengah ke atas,” pungkas Ketua Umum SBSI ini.

Meskipun begitu, Muchtar mengimbau, supaya para buruh tidak menyalurkan aspirasi secara kasar dalam peringatan Hari Buruh pada 1 Mei 2018. “Para buruh agar selalu menyalurkan aspirasinya dengan cara yang baik. “Kalau masa Pak Harto, May Day itu identik dengan (demo) yang keras, itu tidak perlu lagi, kami sudah menyampaikan aspirasi dengan baik,” ungkapnya. (rpka.c/kn-m10)

Related posts