Kecewa Soal ABD BPJS, Ini Kata Kadis Kesehatan Sumut dan Orangtua Bayi Penderita Rubella

Ilustrasi Alat Bantu Dengar (ABD), dipergunakan seorang bayi. (ist)

KarakterNews.com – MEDAN – Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Sumatera Utara, Agustama dinilai tidak mematuhi instruksi atau arahan Ketua TP PKK Sumut, Hj Evi Diana yang meminta Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi (Dinkes Pemprov Sumut) dapat membantu menyediakan alat bantu dengar (ABD) kepada pasien penderita virus rubella yang mengalami gangguan pendengaran.

Kesuma Ramadhan, orangtua dari Iftiyah Ramadhan penderita rubella mengaku kecewa berat atas tindakan yang diberikan Kadis Kesehatan untuk menangani putrinya. Karena sejak awal, pihaknya sudah beberapa kali membawa sang anak untuk diperiksa dokter di Rumah Sakit Adam Malik. Hasilnya, anaknya harus dipasangi alat bantu dengar (ABD) dengan spesifikasi tertentu, mengingat usianya baru satu tahun.

“Karena sudah ada saran dari dokter untuk memasang ABD, makanya kami upayakan walaupun biayanya lumayan mahal,” tutur Kesuma Ramadhan, kepada wartawan, Jumat (4/8/2017).

Dikemukakannya, upaya itu mendapat perhatian dari Ketua TP-PKK Sumut Evi Diana (istri Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi). Ketika itu, Kesuma dijanjikan bantuan untuk pengadaan ADB, yang kemudian memerintahkan Kadis Kesehatan Sumut Agustama, agar mengurus segala sesuatu. Bahkan, sampai meminta supaya masalah harga ABD yang mahal, tidak perlu terlalu dipusingkan.

Baca Juga:  Orangtua Pasien Tolak ABD BPJS, Ini Jawaban Kadis Kesehatan Pemprov Sumut
Orangtua bayi penderita virus rubella berdialog dengan Ketua TP PKK Sumut Hj Evi Diana (menggendong bayi). (ist)

“Sewaktu Ibu Evi Diana datang ke rumah melihat kondisi anak saya. Disitu, Kadis Kesehatan Sumut diperintahkan agar menindaklanjuti persoalan yang dihadapi seorang bayi. Namun, setelah beberapa bulan menunggu, barulah staf dari Dinas Kesehatan datang dan membawa anak saya ke tempat penyedia ABD untuk dicoba pasangkan alatnya,” ungkapnya.

Setelah uji coba alat seharga Rp 30 juta untuk satu telinga, kata Kesuma, dirinya menunggu realisasi dari pemerintah menyediakan ABD meskipun dirinya sempat mendapat kabar bahwa alat yang harganya lebih murah sekitar Rp18 Juta yang bisa disediakan. Sekalipun belum di uji coba, tapi dari segi harga diyakini bisa digunakan ke telinga bayi, karena sebelumnya sudah berkomunikasi dengan dokter spesialis yang menangani bocah Iftiyah.

Kemudian mereka (pihak Dinkes Sumut) datang lagi dan membawa anak saya ke RS Adam Malik. Saya sempat keberatan karena sudah menjalani seluruh rangkaian pemeriksaan. Tapi, kami tetap diminta datang ke RSU Adam Malik untuk pemeriksaan lagi,” sebutnya.

Baca Juga:  Orangtua Pasien Tolak ABD BPJS, Ini Jawaban Kadis Kesehatan Pemprov Sumut

Kekecewaan Kesuma, memuncak saat pihak dinas dan rumah sakit ‘memaksa’ buah hatinya menggunakan alat bantu dengar yang tercover BPJS. Padahal, alat itu dipakai untuk orang dewasa yang mengalami gangguan seperti tuli. Sementara, anaknya Iftiyah mengalami gangguan pendengaran berat. Sehingga dirinya tegas menolak dengan membubuhkan tanda tangan penolakan untuk dilayani pihak rumah sakit menggunakan jalur BPJS yang terbatas.

“Kalau pakai BPJS juga kita tahu terbatas yang bisa diberikan. Tak usah sampai Kepala Dinas ikut campur, alat seharga Rp1 Juta masih bisa kami beli. Kalau itu kami juga tahu,” ujarnya, yang menyebutkan sudah menerima saran dari dokter spesialis untuk membeli ABD yang sesuai dengan spesifikasi bayi penderita rubella.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Sumut Agustama, juga mengaku kecewa dan prihatin dengan sikap orangtua pasien bayi penderita virus rubella yang menolak diberi ABD saat dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat H Adam Malik Medan. “Kami kecewa, orangtua pasien menolak secara tertulis dengan membubuhi tandatangan sebagai bukti ketidaksediaan atas tawaran pihak rumah sakit,” ujarnya, saat dihubungi wartawan.

Baca Juga:  Orangtua Pasien Tolak ABD BPJS, Ini Jawaban Kadis Kesehatan Pemprov Sumut

Dikatakan Agustama, ABD itu disediakan pemerintah melalui BPJS. “Orangtua pasien menolak ABD BPJS, padahal dokter spesialisnya yang menyarankan,” tuturnya, seraya mengemukakan, bahwa tim medis atau dokter spesialis tahu mana alat yang mestinya dipakaikan kepada pasien. “Bukan dilihat dari mahal tidaknya harga ABD. Namun, ABD disarankan sesuai kebutuhan. Kalau saran dokter tidak dituruti, apa boleh buat,” ucapnya.

Kadis Kesehatan, bisa saja nanti sudah besar, penderita rubella mengenakan ABD yang baru sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. “Intinya, Dinas Kesehatan Sumut menjadi pendamping dan akan mengawal terus perkembangan pasien penderita rubella. Jadi salah besar, jika ABD yang diberikan tidak sesuai spesifikasi. Seolah-olah orangtua pasien lebih tahu dari pada dokter, mana ABD yang tidak sesuai spesifikasi dan mana ABD yang sesuai,” pungkasnya. (rel/kn-m09)

Related posts