Jenderal Gatot Nurmantyo : Bila Tak Ada Islam, Kristen, Hindu dan Budha, Bukan Indonesia

Ketua Umum Yayasan UISU Prof Zainuddin, Ketua Pembina UISU T Hamdi Osman, Wakil Ketua Pembina Bakhtiar Chamsyah, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Gubernur Sumut HT Erry Nuradi, saat diwawancarai wartawan.
Ketua Umum Yayasan UISU Prof Zainuddin, Ketua Pembina UISU T Hamdi Osman, Wakil Ketua Pembina Bakhtiar Chamsyah, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Gubernur Sumut HT Erry Nuradi, saat diwawancarai.

KarakterNews.com – Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan, jihad adalah membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang berdasarkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, yang sudah menjadi sumpah untuk pemersatu bangsa.

“Bhinneka Tunggal Ika jangan diutik-utik. Lihat burung Garuda mencengkram kuat Bhinneka Tunggal Ika. Bila tidak ada Islam, bukan Indonesia. Bila tidak ada Kristen, bukan Indonesia. Bila tidak ada Hindu dan Budha, bukan Indonesia. Indonesia adalah kita yang beragam,” ungkap Jenderal Gatot Nurmantyo,dan seketika itu disambut riuh tepuk tangan peserta, saat kuliah umum Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) bekerjasama dengan Kodam I/BB di Gedung Medan Internasional Convention Center (MICC) Jalam Amal, Kota Medan, Sumatera Utara, pada Sabtu (19/11/2016).

Kuliah umum tersebut tidak saja dihadiri seluruh civitas akademika UISU, diantaranya Pembina UISU T Hamdi Osman, Wakil Ketua Pembina Bakhtiar Chamsyah, Ketua Umum Yayasan UISU Prof Zainuddin,  tapi juga dihadiri Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi, Tuan Guru Babussalam Syekh Hasyim Al Syarwani, Pangdam I/BB Mayjen TNI Lodewyk Pusung, Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, Tokoh Masyarakat H Syamsul Arifin (mantan Gubsu), Koordinator Kopertis Wilayah I, Prof Dian Armanto, Ketua FKPPI Sumut Khairuddinsyah Sitorus (Buyung), dan beberapa elemen masyarakat.

Baca Juga:  TNI Tetap Bantu Polri Amankan Pesta Demokrasi

Dalam kuliah umum tersebut, Panglima TNI mengingatkan para pemuda khususnya mahasiswa bahwa dalam setiap mengambil keputusan dan menyalurkan pendapat serta aspirasi kepada pemerintah dalam bentuk demo harus selalu menggunakan akal pikiran dan hati nurani. “Demo dalam alam demokrasi diperbolehkan. Namun, bila mahasiswa berdemo tanpa akal pikiran dan hati nurani, maka hanya dikendalikan oleh orang yang mengatasnamakan mahasiswa,” sebut Gatot Nurmantyo.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Rektor UISU Prof Dr. Mhd Asaad, M.Si, saling memberikan cendramata, seusai memberikan kuliah umum, disaksikan Gubernur Sumut dan Koordinator Kopertis Wilayah Sumut Prof Dian Armanto.
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Rektor UISU Prof Dr. Mhd Asaad, M.Si, saling memberi cendramata, seusai kuliah umum, disaksikan Gubernur Sumut dan Koordinator Kopertis Wilayah Sumut Prof Dian Armanto.

Dibagian lain, saat menyinggung peristiwa demonstrasi yang menuntut Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama beberapa waktu lalu. Dikemukakan Gatot Nurmantyo, saat ini Ahok sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Apabila masih terjadi demonstrasi, maka tujuannya adalah memecah belah bangsa. Saat ini, proses hukum sudah berjalan, jika ada demo pasti tidak berhati nurani. Apalagi sampai menuntut penurunan Presiden, itu sudah pasti tujuannya memecah belah bangsa,” papar Panglima TNI, sembari meminta seluruh pemuka agama agar menebarkan salam dan menjalin silaturahim.

Baca Juga:  Dekan FE Bisnis UUM Malaysia Kuliah Umum di Pascasarjana UNPRI

Pada kesempatan itu, Gubernur Sumut HT Erry Nuradi saat ditemui wartawan mengapresiasi UISU yang telah menghadirkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, untuk memberikan kuliah umum dengan mengangkat tema “Membangun Semangat Kebangsaan dan Kebhinnekaan dalam Bingkai NKRI”.

“Kita harus menumbuhkembangkan nilai-nilai Pancasila, UUD Tahun 1945, Negara Kesatuan RI (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Komunikasi, koordinasi, dan sinergitas senantiasa dilakukan di tengah masyarakat demi mendorong pembangunan nasional, khususnya di Provinsi Sumatera Utara,” ujar Erry Nuradi.

Kata Erry Nuradi, Provinsi Sumatera Utara merupakan potret kecil miniatur masyarakat Indonesia yang multikultural. Karena hampir semua suku, agama, ras dan adat budaya dapat ditemukan di Sumatera Utara. (kn-m07)

Related posts