September 24, 2018

Istri Tukang Bubur Prapidkan Kapolsek Delitua

Ilustrasi
Ilustrasi

Karakternews.com – Dewi Astuti (35) penduduk Jalan Nilam XII Perumnas Simalingkar, harus berjuang untuk menegakkan keadilan, setelah suaminya ditahan di Markas Polsekta Delitua dengan tuduhan penganiayaan. Padahal, tuduhan polisi itu tidak pernah dilakukan oleh suaminya.

Melalui Kuasa Hukum Suyitno, SH MHB, Ali Hasan Husin, SH dan Rojali, SH, istri tukang bubur ini (Dewi Astuti) terpaksa mengajukan gugatan praperadilan (prapid) terhadap Kapolsekta Delitua dan Kajari Lubuk Pakam dan sudah terdaftar dalam register perkara No.11/Pra.pid/2016/PN-Medan tanggal 25 Januari 2016.

Kata Suyitno, SH, bahwa kliennya ingin menguji keabsahan penyidik menahan suami Dewi Astuti yang sehariannya sebagai pedagang bubur. “Klien kami ingin mencari keadilan, sebab suaminya sebagai tulang punggung keluarga harus ditahan, padahal prosedur penangkapan tidak jelas,” ujarnya.

Baca Juga:  Tersangka dan Dicekal, Hary Tanoe Ajukan Praperadilan

Dalam permohonan prapidnya, Suyitno menguraikan alasan Dewi Astuti mengajukan prapid tersebut. Awalnya, Senin 18 Januari 2016 Polsekta Delitua memanggil suami pemohon melalui surat panggilan No.SP.Gil/25/I/2016/Reskrim tanggal 15 Januari 2016 dalam perkara tindak pidana penganiayaan melanggar Pasal 351 (1) KUHP.

Merasa menghargai pemanggilan tersebut, suami pemohon mendatangi Polsekta Delitua untuk diperiksa. Ironisnya, setelah diperiksa Juper Polsekta Delitua langsung menahan suami pemohon dengan menyodorkan surat perintah penahanan No.SP.Han/23/I/2016/Reskrim tanggal 19 Januari 2016. Padahal suami pemohon tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan terhadapnya.

“Secara yuridis tindakan Polsekta Delitua (selaku termohon IV) melakukan penahanan terhadap suami pemohon dikategorikan perbuatan melawan hukum (onrechtmatigh daad) karena tanpa ada surat perintah penangkapan dan tanpa bukti yang cukup untuk menahan suami pemohon. “Tindakan Polsekta Delitua dinilai melanggar pasal 1 ayat 20 dan pasal 18 ayat 1 UU No 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana,” ungkap Suyitno.

Baca Juga:  Tersangka dan Dicekal, Hary Tanoe Ajukan Praperadilan

Berdasarkan alasan tersebut, Suyitno, dkk mengharapkan Hakim PN Medan mengabulkan permohonan pemohon, menyatakan perbuatan Polsekta Delitua melawan hukum memerintahkan termohon untuk membebaskan suami pemohon sekaligus membayar ganti rugi senilai Rp 10 juta. (kn-m07)

Related posts