Hari Ketujuh PON XIX, Atlit Sumut ‘Berguguran’ dan Pelari Putri 5000 Gagal

Atlit sepatu roda Sumut saat bertanding di nomor 300 meter putra PON/XIX di stadion sepatu roda komplek GBLA.
Atlit sepatu roda Sumut saat bertanding di nomor 300 meter putra PON/XIX di stadion sepatu roda komplek GBLA.

KarakterNews.com – Memasuki hari ketujuh Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat, sejumlah atlit dari kontingen Sumatera Utara yang ‘berlaga’ disejumlah cabang olahraga mulai ‘berguguran’ dan gagal menambah perolehan medali.

Untuk cabang tinju, yang bertanding di GSG Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi, petinju Sumut Novizar Maulina yang turun di kelas 57 kg kalah angka atas petinju Maluku Gracia Kaihatu, dan German Hutagaol yang turun di kelas 46 kg, juga harus mengakui keunggulan petinju Riau Jeki Manalu lewat kekalahan angka.

Untuk cabang bola voli putri Sumut, harus takluk 0-3 atas Papua dalam pertandingan digelar di Gor Si Jalak Harupat Kabupaten Bandung. Sedangkan di billiar, pasangan Jefri-Fadil takluk 3-6 atas pebiliar Kalimantan Timur. Sementara atlit sepatu roda putra Sumut, juga harus menerima berada di posisi 10 besar nomor 300 meter digelar di Lapangan Sepatu Roda Saparua Komplek Stadion GBLA.

Masih ada sejumlah nomor pertandingan seperti cabang trio bolling masih akan memainkan partai ketiganya, Jumat (23/9/2016) di Gor Siliwangi Boling Center. Posisi sementara para peboling trio putra/i Sumut cukup berat untuk menembus medali, tapi perjuangan tetap dilakukan hingga pertandingan selesai.

Kegagalan menambah medali juga terjadi untuk pelari Sumatera Utara. Pelari Nyai Prima Agita gagal untuk cabang olahraga atletik 5000 meter putri, yang digelar di Stadion Pakansari Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hingga garis finis, Nyai berada di urutan ke tujuh dengan catatan waktu 19.O3.53 detik.

Untuk nomor lari 5000 meter putri ini, sebagai juara pertama Rini Budiarti (DK) dengan catatan waktu 17.01.60 detik, disusul Triya Ningsih (DKI) 17.10.48 detik, dan peringkat ketiga Yulianti Utari (Sumbar) 17.38.31 detik.

Pelatih atletik Sumut, Bulan Sinaga mengaku hasil yang dicapai Nyai Prima sungguh diluar prediksi mengingat dalam latihan yang dijalani, sebenarnya Nyai mampu melebihi catatan waktu yang diraihnya di PON ini. “Sepertinya Nyai kehilangan motivasi,” ujarnya.

Sedangkan Nyai Prima Agita mengaku, dirinya sudah berjuang secara maksimal untuk tampil sebagai juara, tapi upaya dan perjuangan kerasnya belum bisa memberikan hasil yang baik. “Saya sudah berjuang dengan keras. Tapi memang pesaing yang lainnya lebih baik lagi,” ucapnya.

“Saya masih akan bertanding lagi di nomor lari 10.000 meter putri yang akan digelar pada Sabtu(24/9/2016) mendatang,” ungkap Nyai Prima Agita. (kn-jb08)

Related posts