December 15, 2017

Hari Air Sedunia, Toba Pulp Lestari Jaga Debit dan Kualitas Air

Manager Regional II Toba Pulp, Simon Sidabukke didampingi Corporate Communication Kantor Cabang Medan Dedi Armaya, menjelaskan soal Jembatan Bah Parlianan. Jembatan ini berada di kawasan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) Toba Pulp dibangun tahun 2015, dibuka untuk umum dan sebagai jalan alternatif bagi masyarakat dari Kabupaten Simalungun menuju Kabupaten Tobasa dan juga dari Tobasa menuju Simalungun.
Manager Regional II Toba Pulp, Simon Sidabukke didampingi Corporate Communication (Humas) Kantor Cabang Medan Dedi Armaya, menjelaskan soal Jembatan Bah Parlianan. Jembatan ini berada di kawasan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) Toba Pulp dibangun tahun 2015, dibuka untuk umum dan sebagai jalan alternatif bagi masyarakat dari Kabupaten Simalungun menuju Kabupaten Tobasa dan juga dari Tobasa menuju Simalungun.

Karakternews.com – PT Toba Pulp Lestari Tbk, sebagai perusahaan penghasil bubur kertas berbasis Hutan Tanaman Industri (HTI), tetap senantiasa melakukan pemeliharaan dengan baik kondisi sungai dan anak-anak sungai di konsesinya.

Hal ini dilakukan dengan langkah pencegahan dari degradasi, memantau debit air, menjaga kualitas air termasuk biota air yang hidup di dalamnya,” kata Manager Regional II PT Toba Pulp Lestari, Simon Sidabukke didampingi Humas PT TPL Dedy Armaya dan staf humas Rahmat, kepada awak media, Selasa (22/3/2016).

Baca Juga:  Mencari Solusi, PT TPL Kedepankan Mutual Dialog

Dikatakan Simon Sidabukke, memperingati Hari Air Sedunia (World Day for Water) ini sebagai momentum pentingnya ketersediaan air bersih dan penyadaran pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan. “Dimana Hari Air Sedunia ini diperingati setiap 22 Maret sebagai hasil Sidang Umum PBB ke-47 pada 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil,” ungkapnya.

Saat ditanya awak media, Simon Sidabukke mengemukakan, pemeliharaan dan menjaga air yang dilakukan PT Toba Pulp Lestari, misalnya di konsesi Aek Nauli, terdapat lima anak sungai yaitu Bah Parlianan, Bah Mabar, Bah Boluk, Bah Hapasuk, dan Aek Silau. HTI sektor Aek Nauli berada di wilayah Kabupaten Simalungun. Dalam bahasa setempat, ‘Bah’ berarti sungai.

Untuk memastikan anak-anak sungai tersebut terhindari dari degradasi akibat erosi, PT Toba Pulp Lestari memastikan jarak penebangan di kiri-kanan badan anak sungai minimal 50 meter. “Jarak itu sesuai dengan garis yang ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Kehutanan Republik Indonesia,” kata Simon, seraya menyebutkan dalam terminologi kehutanan, inilah yang disebut dengan Sempadan Sungai.

Baca Juga:  Safari Ramadhan, Toba Pulp Lestari Bantu Bangun 10 Mesjid di Toba Samosir

Selain itu, PT Toba Pulp Lestari juga melakukan pemantauan terhadap perubahan air sungai dari aktivitas HTI dengan tiga cara yakni terhadap debit air di inlet dan outlet minimal sekali dalam sebulan, terhadap kualitas air dengan mengambil sample air setiap semester bekerjasama dengan Sucofindo, serta terhadap biota air sungai (bentos, plankton, nekton) sekali setahun.
Sungai_resize“Sempadan Sungai berfungsi sebagai kawasan lindung di konsesi bersama greenbelt dan Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (KPPN). Khusus untuk sungai atau anak sungai, kawasan lindung dibuat dengan tujuan untuk menahan sedimentasi atau material lain dari areal penanaman agar tidak masuk ke badan sungai, sehingga profil sungai dan juga kualitas airnya tidak mengalami perubahan alias terjaga dengan baik,” ungkap Simon.

Baca Juga:  Bibit Haminjon Unggul, Tingkatkan Pendapatan Petani Humbahas

Dibagian lain, Humas PT TPL Dedy Armaya menambahkan, sempadan sungai pun sekaligus berfungsi sebagai habitat hidup satwa liar, maka area pemantauannya pun diplot satu jalur per anak sungai, dengan frekuensi pemantauan sedikitnya sekali dalam setahun.

Terkait dengan peringatan Hari Air Sedunia, disebutkan Dedy Armaya, sejak bulan Juli 2013, PT Toba Pulp Lestari sudah memulai program pipanisasi air pegunungan dari salah satu titik di kaki pegunungan Bukit Barisan, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba Samosir untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi 50 Kepala Keluarga di daerah tersebut, dimana Lumban Rang adalah tujuan utama pipanisasi air tersebut.

Sebelumnya, kata Dedy, dalam suasana menghadapi krisis air, masyarakat terpaksa bersusah payah menampung air dari sebuah pancuran pinggir jalan lintas Sumatera dan kemudian memanggulnya hingga sejauh 1 km di jalanan yang berbukit-bukit. Namun, setelah dilakukan program pipanisasi air oleh PT PT Toba Pulp Lestari, masyarakat sudah tidak lagi menghadapi krisis air, tapi justru benar-benar sudah dapat menikmati aliran air yang bersumber dari pengunungan. (kn-m09)

Related posts