December 15, 2017

Bagikan 9000 Sertifikat Tanah, Presiden Jokowi : Biasanya Sertifikat ‘Disekolahkan’

Presiden RI Jokowi didampingi Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi dan Bupati Langkat Ngogesa Sitepu, menyapa masyarakat saat tiba di Alun Alun Tengku Amir Hamzah Stabat. (ist)

KarakterNews.com – STABAT – Sewaktu melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Langkat, Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) membagikan 9000 sertifikat tanah kepada masyarakat Langkat, Medan, Binjai dan Deliserdang di Alun-Alun Tengku Amir Hamzah Kabupaten Langkat, Jumat (24/11/2017).

Pembagian sertifikat ini disaksikan Menteri Agraria dan Tata Ruang atau Badan Pertanahan Nasional, Sofyan Djalil, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Mensesneg Pramono Anung, Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi dan Bupati Langkat Ngogesa Sitepu.

Untuk Sumatera Utara, disebutkan Jokowi, dari 3,9 juta baru 1,4 juta atau 30 persen yang menerima bantuan sertifikat tanah. Sama seperti Nasional dari 127 juta tapi baru 46 juta yang dapat. Makanya saya perintahkan Menteri BPN agar penerima sertifikat cepat selesai. Tahun ini, target kita 5 juta, tahun depan 7 juta, tahun depannya lagi 9 juta harus dikeluarkan,” ujarnya, langsung disambut tepuk tangan masyarakat.

Baca Juga:  Presiden Jokowi ke Bandara Soetta, Pendemo Bakal Diterima Menko Polhukam

Alasan Jokowi mendesak percepatan sertifikat tanah bagi masyarakat karena dirinya kerab mendapat informasi saat turun ke desa-desa adanya konflik tanah ditengah masyarakat. Tidak sedikit dari masyarakat desa yang harus merelakan tanahnya karena kalah di pengadilan.

“Jika sudah pegang sertifikat, berarti hak hukum atas tanah sudah dipegang. Saya pesankan, simpan baik-baik, laminating dan jangan lupa fotokopi. Kalau hilang mudah mengurusnya ke BPN. Apalagi kalau hujan, takutnya kalau ada rumahnya yang bocor bisa rusak,” tutur Jokowi.

Di sisi lain, Presiden Jokowi mengingatkan agar sertifikat tanah yang sudah dimiliki masyarakat harus di simpan baik-baik. Bahkan kalau pun ada yang ingin “menyekolahkan”, Jokowi berpesan agar uangnya dipergunakan ke hal-hal yang positif seperti modal usaha.

Baca Juga:  Revolusi Mental, Peran Sekolah Garis Terdepan

“Saya titip pesan lagi, biasanya sertifikat ini “disekolahkan”. Saya tahu karena saya sering turun ke desa dan kampung-kampung. Saya pesankan agar pakeklah bank yang angunannya rendah seperti KUR cuma 9 persen. Kalau pinjam uang, tolong dihitung. Jika keliru hitungnya, sertifikatnya hilang disita bank. Misalnya dapat pinjaman Rp 300 juta, jangan 150 jutanya dibelikan mobil atau motor. Paling tiga atau enam bulan selanjutnya sertifikat jadi milik bank. Kalau minjam gunakan untuk modal usaha jangan buat gagah-gagahan,” tutur Jokowi.

Jokowi juga menitipkan pesan kepada masyarakat agar senantiasa menjaga persaudaraan antar sesama. Sebagai negara yang besar dan dengan adat istiadat, suku dan agama yang berbeda-beda, masyarakat senantiasa dapat menjaga kebhinekaan dan menjalin rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

Baca Juga:  Kata Presiden : Penghapusan Presidensial Threshold, Tunggu DPR

“Sekarang ini saya sudah menjadi keluarga besar Sumatera Utara. Tadi ada yang menyalami saya sambil bilang, “Pak, Saya Siregar, Pak, Saya Nasution. Saya bilang iya saya ngerti. Kita semua bersaudara. Saya pingin ke Langkat ini karena saya belum pernah kemari. Mari kita hidup rukun. Seperti ada pemilihan kepala daerah atau bahkan presiden, pilihlah yang terbaik. Coblos, setelah itu rukun lagi,” ucap Jokowi. (kn-m10)

Related posts